KAI Siap Laksanakan Penggunaan Bahan Bakar Biodiesel 20%
Posted: 07.08.2018 Categories: Berita

Pemerintah saat ini menerapkan program baru mengenai penggunaan bahan bakar transportasi Biodiesel 20% (B20) untuk kendaraan subsidi. Adapun B20 merupakan bahan bakar alternatif yang dibuat dengan  mencampur minyak solar biasa dengan biodiesel sebanyak 20% yang berasal dari produk pertanian seperti kelapa sawit, kecang kedelai dan kanola. Program ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015  tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang mengisyaratkan kewajiban B20 kepada kendaraan subsidi. Penggunaan bahan bakar B20 ini dapat dapat berdampak pada penghematan devisa negara sekitar USD 5,5 miliar per tahun.

Pemerintah yang semula membuat kebijakan pengunaan B20 pada sektor transportasi  subsidi atau Public Service Obligation (PSO) di perluas ke transpotrasi non subsidi atau non Public Service Obligation (non-PSO). Presiden Jokowi meminta dukungan penuh pada program B20 ini karena biodiesel merupakan produksi lokal. "Ada satu inovasi yang sangat kita butuhkan saat ini, yaitu implementasi biodiesel B20 sampai ke segala sektor, termasuk untuk kendaraan konsumen. Saya minta dukungan penuh supaya substitusi biodiesel produksi lokal bisa dioptimalkan," kata Jokowi dalam pembukaan GIIAS 2018.


Lokomotif CC205

Dalam rangka mendukung dan mesukseskan program pemerintah tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah melakukan beberapa kajian dan uji coba terhadap penggunaan B20 pada lokomotif. Pada tahun 2017 Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi telah melakukan Kajian Penggunaan B20 pada komponen dan sistem bahan bakar pada Lokomotif dan Genset KAI. Melalui kajian tersebut, diperoleh beberapa rekomendasi antara lain agar dilakukan rail test untuk mendapatkan data komprehensif pengaruh penggunaan B20 pada sistem bahan bakar lokomotif CC205 dan CC206. "Untuk teknis pelaksanaan Rail Test tahun 2018, kami melibatkan pemangku kepentingan terkait”, Ungkap Direktur Jenderal EBTKE Rida Mulyana.

Pada Sabtu (10/2) dilaksanakan acara Pelepasan Lokomotif Rail Test Penggunaan B20 oleh Rida Mulyana dan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri di UPT Balai Yasa Lahat.  Pada acara tersebut dilakukan uji coba penggunan B20 pada 4 unit lokomotif yang  digandeng dengan gerbong batubara.Total waktu yang diperlukan untuk Rail Test B20 ini adalah 6 bulan hingga Juli 2018.

“Tujuan rail test ini diharapkan agar pemanfaatan bioedisel dapat berjalan di KAI dan terjadi peningkatan dari pemanfaatan Biodiesel di KAI” ucap Dadan kusdiana, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Adapun pengujian dalam rail test yang dilakukan, meliputi uji kualitas bahan bakar, uji performance, dan uji material. Dadan menjelaskan dalam uji bahan bakar saat ini telah diambil sampel untuk B0 dan B20 sejumlah 835 sampel dan 700 diantaranya telah diuji laboratorium.


Pengujian B20 pada Lokomotif CC206

Dalam menindaklanjuti Rail Test penggunaan B20  diselenggarakan Monitoring dan Evaluasi Rail Test I yang diadakan oleh Kementerian ESDM RI pada Jumat (23/3) di Hotel Novotel, Bandar Lampung. Acara tersebut dihadiri oleh Deputy EVP IV Tanjungkarang Asdo Artriviyanto didampingi jajaran Sarana Divre IV Tnk, Kementerian ESDM RI, IKABI Imam Paryanto, ITB, PT Pertamina, PT GE, EMD, P3TEBTKE serta tim terkait. Dalam hal ini Asdo mengatakan bahwa KAI akan selalu komunikasi dengan GE dan EMD yang memproduksi lokomotif dalam evaluasi penggunaan bahan bakar Boidiesel B20 pada lokomotif CC 205&206, ujarnya. Pada monitoring dan evaluasi tersebut diisi dengan pemaparan mengenai progres rail test dan uji kualitas bahan bakar serta diskusi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke Dipo Tarahan.

Hasil Rail Test B20 pada KAI yang dilaksanakan pada 3 bulan pertama menunjukkan hasil yang baik, bahwa tidak ada permasalahan dalam penggunaan B20 pada Kereta Api. Hasil test ini diperoleh melalui evaluasi dan monitoring yang dilakukan oleh Tim Kementerian ESDM. Dalam evaluasi dan monitoring uji jalan ini, dilaksanakan diskusi sebagai bahan evaluasi penggunaan bahan bakar Boidiesel 20% B20 pada lok cc 205&206 dari masing-masing pihak agar secara teknis dan komprehensif tidak menimbulkan kendala dan dapat berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. “Selama tiga bulan ini belum ada masalah, baik dari performa engine maupun dari B20 itu sendiri," ungkap Staf Ahli Menteri ESDM.


Suasana rapat bersama produsen komponen sarana

Untuk memastikan kehandalan dan ketersediaan (Reliability dan Availability) sarana dengan mandatori B20, KAI  mengadakan rapat pembahasan persiapan pelaksanaan mandatori biodiesel B20 di ruang Rakor  Kantor Pusat KAI pada Selasa (7/8). Rapat ini dihadiri oleh Direktur Utama KAI Edi Sukmoro, Direktur Pengelolaan Sarana KAI Azahari dan perwakilan dari perusahaan manufacture diantaranya PT Caterpillar, Cummins, Deutz, Kubota, MTU, MWM, Perkins, Scania, Volvo, PT Inka, Patraniaga Pertamina, General Electric, Progressrail/ EMD. Dalam rapat tersebut Edi Sukmoro memberikan arahan bahwa KAI mendukung program pemerintah terkait penggunaan BBM B20 pada operasional KA. “KAI juga harus mengantisipasi penggunaan B30 pada tahun 2020,” ujar Edi Sukmoro. Pada rapat tersebut juga dibahas bagaimana kesiapan para produsen komponen Lokomotif, KRD, dan Genset KAI untuk menghadapai penggunaan B20 yang akan diterapkan secara menyeluruh pada tahun ini. (Public Relations KAI)

 

 

Booking Button