Serentak, KAI Gelar Sosialisai Keselamatan di Perlintasan KA
Posted: 19.09.2019 Categories: Berita

Sebagai tindak lanjut dari FGD bertanjuk ‘Perlintasan Sebidang Tanggung Jawab Siapa?’ yang telah diselenggarakan pada Jumat (6/9) lalu, KAI pun secara serentak mengadakan Giat Perlintasan Sebidang di seluruh wilayah operasi KAI di Pulau Jawa dan Sumatera.

Kegiatan yang merupakan wujud komitmen bersama ini berlangsung selama 2 hari pada Selasa-Rabu 17-18 September 2019. Acara berbentuk sosialisasi keselamatan bagi para pengguna jalan yang melewati perlintasan sebidang.


Sosialisasi dilakukan salah satunya dengan membentangkan spanduk himbauan

VP Public Relations KAI, Edy Kuswoyo menjelaskan sosialisasi berlangsung di 78 titik perlintasan sebidang yang ada di seluruh wilyah operasi KAI menggandeng pihak kepolisian, dinas perhubungan serta pemerintah daerah. Tak hanya imbauan untuk mematuhi aturan di perlintasan sebidang, di lokasi tersebut pihak kepolisian juga melakukan penegakan hukum.

“Adanya kegiatan sosialisasi ini diharapkan agar masyarakat lebih peduli terhadap keselamatan maupun kesadaran aturan lalu lintas yang berada diperlintasan sebidang,” ungkapnya.

Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, Zamrides turut mendukung acara ini. Ia mengatakan sosialisasi keselamatan di perlintasan sebidang dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi angka kecelakaan di perlintasan sebidang.

"Kami ingin pengendara bisa selamat sampai di tujuan, dan perjalanan kereta juga tidak terganggu oleh hal apapun," katanya.


Salah seorang polisi yang turut dalam sosialisasi memberikan arahan kepada pengguna jalan

Perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Perlintasan sebidang tersebut muncul dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api. Tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas memicu timbulnya permasalahan yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang.

Sesuai Undang Undang No.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 94 menyatakan bahwa, “(1) Untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup; (2) Penutupan perlintasan sebidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.”

KAI mencatat terdapat 1.223 perlintasan sebidang yang resmi dan 3.419 perlintasan sebidang yang tidak resmi. Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa flyover maupun underpass berjumlah 349.

Selama Tahun 2019, telah terjadi 260 kali kecelakaan yang mengakibatkan 76 nyawa melayang. Salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan juga kerap terjadi lantaran tidak sedikit para pengendara yang tetap melaju meskipun sudah ada peringatan melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi.


Pengguna jalan juga diberikan souvenir dalam sosialisasi ini

Selain itu pada Undang Undang No. 22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 114 menyatakan bahwa “Pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib: Berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai di tutup dan atau ada isyarat lain; Mendahulukan kereta api, dan; Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel.”

Melihat Kondisi tersebut sudah selayaknya para pengendara yang melanggar rambu tersebut mendapatkan sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Selain melakukan sosialisasi, demi menekan jumlah kecelakaan, KAI juga telah menutup sebanyak 311 perlintasan tidak resmi telah KAI tutup dari tahun 2018 - Juni 2019. Pada prosesnya langkah yang dilakukan KAI untuk keselamatan tersebut juga kerap mendapatkan penolakan dari masyarakat, dalam kondisi tersebut diperlukan langkah untuk mencari jalur alternatif bagi masyarakat yang harus disolusikan bersama oleh pemerintah pusat atau daerah. (Public Relations KAI)

 

Booking Button